Banjarmasin, koranpelita.net
Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) H Ahmad Bagiawan, mengatakan, salah satu pendorong tumbuhnya prekonomian Kalimantan Selatan (Kalsel) hingga mencapai 5,67 persen, pada kuartal I 2026 ini, yaitu didorong adanya peningkatan volume ekspor seperti batubara dan CPO.
“Ada tujuh komoditas ekspor Kalsel selain batubara dan CPO yaitu, ada kayu, rotan, karet, kayu bakar jenis pelet, barang-barang lainya, ditambah ikan-ikan hidup dan belut,” ujar Ahmad Bagiawan, Jumat (28/5/2026).
Salah satu penyumbang ekspor yang cukup besar yaitu jenis ikan hidup seperti cumi, kepiting, dan belut, karena terbukanya penerbangan langsung ke Malaysia dengan maskapai Air Asia yang selanjutnya dibawa ke Taiwan, Hongkong dan negara lainya.
“Untuk jenis belut ini harga di kita dikisaran 50 ribu rupiah per kilogram, sedang di Malaysia seharga 50 Ringgit atau 225.000 rupiah,” katanya.
Disinggung melemahnya kurs rupiah terhadap US dolar. Namun ekonomi Kalsel ternyata tumbuh cukup tinggi apakah berdampak positif atau negatif? Kadisperindag yang akrab disapa Haji Gia ini, menyatakan ada pengaruh positif dan negatifnya.
” Ya untuk barang ekspor seperti batubara dan CPO karena harga di dunia naik, maka nilai harga jualnya juga naik karena harga dolar menguat terhadap rupiah, dan eksportir tentu gembira,” kata Haji Gia.
Dia mencontohkan, sebelumnya harga batubara dunia dikisaran 400 ribu/ton, kemudian naik dikisaran 600 ribu sampai dengan 700 ribu per ton, dikarenakan kurs dolar.
Sebaliknya, untuk barang impor maka jika perusahaan importir harus menambah nilai rupiahnya terhadap dolar.
“Jadi nilai ekspor itu meningkat saat ini antara lain dipengaruhi kurs rupiah yang melemah dan dolar naik. Tetapi selain itu, memang ekspor-ekspor Kalsel juga bertambah, terutama di dominasi oleh komoditas batubara,” pungkasnya. (pik)
www.koranpelita.net Lugas dan Faktual